1. PENGERTIAN SEKS
Seks
merupakan naluri alamiah yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup di
muka bumi ini. Bukan hanya manusia yang memiliki naluri seks, tetapi
juga termasuk hewan dan makhluk hidup lainnya (tumbuhan). Seks
diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup hidup suatu spesies atau
suatu kelompok (jenis) makhluk hidup. Tujuan utama dari seks adalah
untuk repeuduksi buat kepentingan regenerasi. Artinya setiap makhluk
hidup melakukan seks untuk memperoleh keturunan agar dapat menjaga dan
melestarikan keturunannya. Selain itu tujuan seks adalah sebagai sarana
untuk memperoleh kepuasan dan relaksasi dalam kehidupan (bagi manusia).
Kegiatan
seks (bagi manusia) hanya boleh dilakukan ketika sudah ada ikatan yang
sah antara laki-laki dan perempuan, ikatan itu disebut dengan nikah.
Hubungan seks yang dilakukan diluar pernikahan merupakan suatu
pelanggaran terhadap norma-norma (baik norma agama maupun norma-noram
yang berlaku lainnya) dan merupak suatu perbuatan dosa yang besar dan
sangat berat hukumannnya.
Kita
sering mendengar baik dari cerita teman-teman ataupun dari berita
tentang perilaku manusia zaman sekarang yang sering melakukan hubungan
seks diluar nikah (merupakan bagian dari seks bebas / free seks).
Hubungan seks tersebut merupakan hubungan seks liar yang dilakukan
secara illegal dalam artian sudah menyalahi norma-norma yang ada.
Tidak
sepantasnya apabila seorang manusia melakukan hubungan seks diluar
nikah (seks bebas / free seks), karena hal itu lebih cenderung kepada
sifat-sifat kehewanan. Coba kita bandingkan dengan hewan-hewan yang
melakukan hubungan seks sesuka hatinya, dengan pasangan yang
berbeda-beda dan dilakukan dimanapun yang penting ada kemauan. Hewan
melakukan hal tersebut karena mereka tidak dianugerahi akal dan pikiran
untuk melihat mana yang baik, mana yang buruk, mana yang pantas dan mana
yang tidak pantas untuk dilakukan. Selain itu, hewan tidak terikat
dengan norma-norma yang mengharuskannya untuk megikuti aturan dari norma
yang berlaku dan mengikat seorang manusia. Kalau manusia melakukan
kegiatan seks bebas / free seks, berarti derajat mereka tidak lebih dari
hewan yang berwajah manusia, karena manusia dianugerahi oleh Tuhan akal
dan pikiran untuk dapat memilih mana yang baik, mana yang buruk, mana
yang pantas dan mana yang tidak pantas untuk dilakukan.
Hawa
nafsu merupakan hal yang sangat menentukan dalam terjadinya perilaku
seks bebas / free seks. Hubungan seks dilakukan apabila hawa nafsu sudah
menguasai dirinya. Hawa nafsu membuat seseorang lupa segala-segalanya,
termask lupa akan Tuhan, yang dia tahu hanyalah bagaimana caranya agar
nafsunya tersebut dapat tersalurkan. Oleh karena itu, sebagai manusia
ang diberukan kelebihan oleh Tuhan dibandingfkan dengan makhluk lainnya,
kendalikanlah hawa nafsu kita agar derajat kita bias lebih tingi dari
makhluk-makhluk yang lain. Karena diasaat kita kalah oleh hawa nafsu,
maka derajat kita sama dengan seekor hewan.
Seks bebas / free seks merupakan pengaruh budaya yang datang dari barat dan kemudian diadopsi oleh masyarakat Indonesia
tanpa memfilternya terlebih dahulu. Revolusi seks yang mencuat di
Amerika Serikat dan Eropa pada akhir tahun 1960-an sudah mermabah masuk
kenegeri kita tercinta ini melalui piranti teknologi informasi dan
saran-sarana hiburan lainnya semakin canggih. Sekarang, untuk
mendapatkan suatu video, gambar dan cerita-cerita tentang seks dan
pornografi lainnya sangat mudah, tinggal cari di internet dengan
mengunjungi situs-situs yang meyediakan layanan dewasa tersebut selain
itu juga film-film dewasa tersebut juga sudah dijual oleh para pedagang
kaset dan video. Begtu mudahnya akses untuk mendapatkan hal-hal yang
berbau pornografi sekarang ini menyebabkan semakin meningkatnya angka
perilaku seks bebas / free seks di dalam masyarakat.
2. FASE REMAJA
Manusia
selau mengalami perubahan, baik itu perubahan yang bersifat fisik
(bentuk tubuh) maupun yang bersifat nonfisik (sifat dan tingkah laku).
Masa remaja merupakan masa yang pasti dialami oleh setiap orang. Pada
masa ini, pola piker kita mengalami peralihan dari pola pikir yang masih
bersifat kekanak-kanakan menjadi pola pikir yang lebih dewasa. Setelah
melewati masa remaja maka setiap orang akan memasuki sebuah tahapan atau
fase yag disebut dengan fase pendewasaan. Di dalam fase ini manusia
mengalami perubahan pola pikir menjadi lebih matang secara bertahap.
Pada
masa remaja biasanya setiap individu masih bingung dalam menentukan
siapa sebenarnya dia (tahap pencarian jati diri) dalam artian masih
mencari apa yang harus ia lakukan dalam kehidupannya. Pada masa inilah
diperlukan penanaman nilai-nilai norma yang berlaku agar pada waktu
menjalani fase pendewasaan tidak terjerumus kedalam jurang kesalahan
yang dalam.
3. FASE PENDEWASAAN
Masa
remaja biasanya dialami pada saat usia sekolah menengah, setelah masa
remaja ini terlewati maka fase selanjutnya adalah fase pendewasaan yang
biasanya dialami setelah lulus SMU atau pada waktu (seumuran) pertama
kali kuliah (awal menjadi mahasiswa). Pada saat menjadi mahasiswa pola
pikir seseorang akan menjadi semakin kritis, responsive dan cenderung
idealis. Pada fasae inilah pola piker terbentuk menjadi semakin matang.
Tapi yang penulis maksud disini bukan berarti bahwa karena menjadi
mahasiswalah pikirannya menjadi lebih matang, tetapi yang penulis maksud
adalah pada waktu seumuran mahasiswa walaupun seseorang tersebut tidak
menjadi mahasiswa (yang mengalami hal ini bukan haya mahasiswa tapi
semua orang).
Saat
pertama menjadi mahasiswa, setiap individu pasti merasakan perbedaan
yang sangat signifikan dibandingkan dengan masa-masa SMU dan kemungkinan
terjerumus kedalam hal-hal yang negatif (seks bebas / free seks) sangat
besar. Apalagi, bagi mereka yang arus tinggal terpisah dengan orang tua
mereka.
4. FAKTA DAN ANALISIS
Penulis
akan membahas tentang perilaku seks bebas / free seks di kalangan
remaja (siswa SMU) dan masiswa. Fakta-fakta yang penulis temukan
dilapanganakan penulis tulis dan sya analisis seadanaya.
a. Remaja (SMU)
Seks
bebas / free seks ini disebabkan karena ada beberapa tahapan yang
biasanya dilakukan sebelum seseorang berani melakukan hubungan seks
yaitu:
- Pegangan tangan
- Ciuman sebatas ciuman di pipi dan kening
- Ciuman bibir (kiss franc)
- Pelukan
- Petting (mulai berani melepas pakaian bagian atas)
- Meraba kebagian-bagian yang sensitif (mulai berani buka-bukaan)
- Melakukan hubungan seks
Biasanya
para remaja pada saat berpacaran baru berani melakukan tahapan dari
nomor 1 sampai dengan nomor 5 (walaupun banyak juga yang berani
melakukan tahapan nomor 6, tapi hanya sebagian kecil yang sudah berani
melakukan hubungan seks denga pacarnya).
Penulis
pernah mendengar seorang siswi SMU kelas 3 yang kumpul kebo dengan
seorang laki-laki yang merupakan seorang mahasiswa. Mereka sangat berani
tidur satu kamar dan melakukan hubungan seks. Bahkan menurut teman satu
kelasnya, seks merupakan kebutuhan yang wajib mereka penuhi dalam
kehidupan mereka.
Terlintas
dalam pikiran penulis sebuah pertanyaan ketika mengetahui ada remaja
yang melakukan hubungan seks seperti diatas “apakah sudah sedemikian
ruasaknya pergaulan remaja saat ini?”. Memang penulis akui tidak tidak
banyak kasus hubungan seks antar remaja yang say dapati di daerah ni,
tapi daerah yang penulis amati dan teliti ini merupakan daerah yang jauh
dari hiruk pikuk kehidupan kota besar seperti Banjarmasin.
Dini dapat penulis simpulkan bahwa didaerah yang seperti itu saja sudah
terdapat kasus seks bebas / free seks, apalagi kalau di kota besar, mungkin hal itu sudah biasa terjadi (mudah-mudahan saja tidak).
b. Mahasiswa
Mahasiswa
seharusnya adalah sosok yang mempunyai wibawa bukan sebaliknya malah
tidak memunyai wibawa sama sekali. Dengan melakukan hubunga seks diluar
nikah, apakah seorang mahasiswa pantas menjadi sosok yang diteladani?.
Menurut pengamatan penulis, sebagian besar mahasiswa pernah melakukan
hubungan seks diluar nikah. Bahkan hubungan seks tersebut bukan hanya
dilakukan dengan satu pasangan saja melainkan dilakukan denbgan beberapa
pasangan (gonta-ganti pasangan).
Dalam
bagian ini penulis tidak terlalu banyak mengomentari, akan tetapi
penulis akan menyuguhkan fakta-fakta yang ada dan mengajak pembaca untuk
berfikir dan menganalisis sendiri apa yang sebenarnya sudah terjadi
dikalangan remaja, mahasiswa dan masyarakat dalam hal seks bebas / free
seks.
BAB II
PEMBAHASAN
1. FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERJADINYA FREE SEKS
Menurut
beberapa penelitian, cukup banyak faktor penyebab remaja melakukan
perilaku seks bebas / free seks. Salah satu di antaranya adalah akibat
atau pengaruh mengonsumsi berbagai tontonan. Apa yang ABG tonton,
berkorelasi secara positif dan signifikan dalam membentuk perilaku
mereka, terutama tayangan film dan sinetron, baik film yang ditonton di
layar kaca maupun film yang ditonton di layar lebar.
Disyukuri memang karena ada kecenderungan dunia perfilman Indonesia mulai bangkit kembali, yang ditandai dengan munculnya beberapa film Indonesia
yang laris di pasaran. Sebutlah misalnya, film Ada Apa Dengan Cinta,
Eiffel I’m in Love, 30 Hari Mencari Cinta, serta Virgin. Tetapi rasa
syukur itu seketika sirna seiring dengan munculnya dampak yang
ditimbulkan dari film tersebut. Terutama terhadap penonton usia remaja.
Menurut
hemat penulis, film-film yang disebutkan tadi laris di pasaran bukan
karena mutu pembuatan filmnya akan tetapi lebih karena film tersebut
menjual kehidupan remaja, bahkan sangat mengeksploitasi kehidupan
remaja. Film tersebut diminati oleh banyak remaja ABG bukan karena mutu
cinematografinya, melainkan karena alur cerita film tersebut mengangkat
sisi kehidupan percintaan remaja masa kini. Film tersebut diminati
remaja ABG, karena banyak mempertontonkan adegan-adegan syur dengan
membawa pesan-pesan gaya pacaran yang sangat “berani”, dan secara
terang-terangan melanggar norma sosial kemasyarakatan, apalagi norma
agama.
Sebagai
penulis, penulis sulit dan amat sulit memahami apa sesungguhnya misi
yang ingin disampaikan oleh film tersebut terhadap penontonnya. Bukan
saja karena tidak menggambarkan keadaan sebenarnya yang mayoritas remaja
bangsa Indonesia,
tetapi juga karena ia ditonton oleh anak-anak yang belum dapat memberi
penilaian baik dan buruk. Mereka baru mampu mencontoh apa yang
terhidang. Akibatnya, remaja mencontoh gaya
pacaran yang mereka tonton di film. Akibatnya pacaran yang dibumbui
dengan seks bebas / free sekspun akhirnya menjadi kebiasaan yang populer
di kalangan remaja. Maka, muncullah patologi sosial seperti hasil
penelitian di atas.
Hal
kedua yang menjadi penyebab seks bebas / free seks di kalangan remaja
adalah faktor lingkungan, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan
pergaulan. Lingkungan keluarga yang dimaksud adalah cukup tidaknya
pendidikan agama yang diberikan orangtua terhadap anaknya. Cukup
tidaknya kasih penulisng dan perhatian yang diperoleh sang anak dari
keluarganya. Cukup tidaknya keteladanan yang diterima sang anak dari
orangtuanya, dan lain sebagainya yang menjadi hak anak dari orangtuanya.
Jika tidak, maka anak akan mencari tempat pelarian di jalan-jalan serta
di tempat-tempat yang tidak mendidik mereka. Anak akan dibesarkan di
lingkungan yang tidak sehat bagi pertumbuhan jiwanya. Anak akan tumbuh
di lingkungan pergaulan bebas.
Dalam
lingkungan pergaulan remaja ABG, ada istilah yang kesannya lebih
mengarah kepada hal negatif ketimbang hal yang positif, yaitu istilah
“Anak Gaul”. Istilah ini menjadi sebuah ikon bagi dunia remaja masa kini
yang ditandai dengan nongkrong di kafe, mondar-mandir di mal, memahami
istilah bokul, gaya fun, berpakaian serba sempit dan ketat kemudian memamerkan lekuk tubuh, dan mempertontonkan bagian tubuhnya yang seksi.
Sebaliknya
mereka yang tidak mengetahui dan tidak tertarik dengan hal yang
disebutkan tadi, akan dinilai sebagai remaja yang tidak gaul dan
kampungan. Akibatnya, remaja anak gaul inilah yang biasanya menjadi
korban dari pergaulan bebas, di antaranya terjebak dalam perilaku seks
bebas / free seks.
2. DAMPAK DAN CARA MENANGGULANGINYA
Pengetahuan
remaja mengenai dampak seks bebas / free seks masih sangat rendah. Yang
paling menonjol dari kegiatan seks bebas / free seks ini adalah
meningkatnya angka kehamilan yang tidak diinginkan. Setiap tahun ada
sekitar 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia
dimana 20 persennya dilakukan remaja. Di Amerika, 1 dari 2 pernikahan
berujung pada perceraian, 1 dari 2 anak hasil perzinahan, 75 % gadis
mengandung di luar nikah, setiap hari terjadi 1,5 juta hubungan seks
dengan pelacuran. Di Inggris 3 dari 4 anak hasil perzinahan, 1 dari 3
kehamilan berakhir dengan aborsi, dan sejak tahun 1996 penyakit
syphillis meningkat hingga 486%. Di Perancis, penyakit gonorhoe
meningkat 170% dalam jangka waktu satu tahun. Di negara liberal,
pelacuran, homoseksual/ lesbian, incest, orgy, bistiability, merupakan
hal yang lumrah bahkan menjadi industri yang menghasilkan keuntungan
ratusan juta US dolar dan disyahkan oleh undang-undang.
Lebih
dari 200 wanita mati setiap hari disebabkan komplikasi pengguguran
(aborsi) bayi secara tidak aman. Meskipun tindakan aborsi dilakukan oleh
tenaga ahlipun masih menyisakan dampak yang membahayakan terhadap
keselamatan jiwa ibu. Apalagi jika dilakukan oleh tenaga tidak
profesional (unsafe abortion).
Secara
fisik tindakan aborsi ini memberikan dampak jangka pendek secara
langsung berupa perdarahan, infeksi pasca aborsi, sepsis sampai
kematian. Dampak jangka panjang berupa mengganggu kesuburan sampai
terjadinya infertilitas.
Secara
psikologis seks pra nikah memberikan dampak hilangnya harga diri,
perasaan dihantui dosa, perasaan takut hamil, lemahnya ikatan kedua
belah pihak yang menyebabkan kegagalan setelah menikah, serta penghinaan
terhadap masyarakat.
Bagaimana Remaja Bersikap?
Hubungan
seks di luar pernikahan menunjukkan tidak adanya rasa tanggung jawab
dan memunculkan rentetan persoalan baru yang menyebabkan gangguan fisik
dan psikososial manusia. Bahaya tindakan aborsi, menyebarnya penyakit
menular seksual, rusaknya institusi pernikahan, serta ketidakjelasan
garis keturunan. Kehidupan keluarga yang diwarnai nilai sekuleristik dan
kebebasan hanya akan merusak tatanan keluarga dan melahirkan generasi
yang terjauh dari sendi-sendi agama.
Melihat fenomena ini, apa yang harus kita lakukan dalam upaya menyelamatkan generasi muda? Ada beberapa solusi, di antaranya :
a. Membuat
regulasi yang dapat melindungi anak-anak dari tontonan yang tidak
mendidik. Perlu dibuat aturan perfilman yang memihak kepada pembinaan
moral bangsa. Oleh karena itu Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi
dan Pornoaksi (RUU APP) harus segera disahkan.
b. Orangtua
sebagai penanggung jawab utama terhadap kemuliaan perilaku anak, harus
menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dalam keluarganya. Kondisi
rumah tangga harus dibenahi sedemikian rupa supaya anak betah dan
kerasan di rumah.
Berikut
petunjuk-petunjuk praktis yang diberikan Stanley Coopersmith (peneliti
pendidikan anak), kepada orangtua dalam mendidik dan membina anak. Yaitu
:
a. Kembangkan komunikasi dengan anak yang bersifat suportif. Komunikasi ini ditandai lima kualitas; openness, empathy, supportiveness, positivenes, dan equality.
b. Tunjukkanlah
penghargaan secara terbuka. Hindari kritik. Jika terpaksa, kritik itu
harus disampaikan tanpa mempermalukan anak dan harus ditunjang dengan
argumentasi yang masuk akal.
c. Latihlah
anak-anak untuk mengekspresikan dirinya. Orangtua harus membiasakan
diri bernegosiasi dengan anak-anaknya tentang ekspektasi perilaku dari
kedua belah pihak.
d. Ketahuilah
bahwa walaupun saran-saran di sini berkenaan dengan pengembangan harga
diri, semuanya mempunyai kaitan erat dengan pengembangan intelektual.
Proses belajar biasa efektif dalam lingkungan yang mengembangkan harga
diri. Intinya, hanya apabila harga diri anak-anak dihargai, potensi
intelektual dan kemandirian mereka dapat dikembangkan.
Selain petunjuk yang diberikan Stanley
di atas, keteladanan orangtua juga merupakan faktor penting dalam
menyelamatkan moral anak. Orangtua yang gagal memberikan teladan yang
baik kepada anaknya, umumnya akan menjumpai anaknya dalam kemerosotan
moral dalam berperilaku.
Melihat
fenomena ini, sepertinya misi menyelamatkan moral serta memperbaiki
perilaku generasi muda harus segera dilakukan dan misi ini menjadi
tanggung jawab bersama, tanggung jawab dari seluruh elemen bangsa. Jika
misi ini ditunda, maka semakin banyak generasi muda yang menjadi korban
dan tidak menutup kemungkinan kita akan kehilangan generasi penerus
bangsa
3. BANYAK ORANG YANG MENJALANI FREE SEKS DI IDONESIA (PERSENTASE)
Beberapa
penelitian menunjukkan, remaja putra maupun putri pernah berhubungan
seksual. Di antara mereka yang kemudian hamil pranikah mengaku taat
beribadah. Penelitian di Jakarta tahun 1984 menunjukkan 57,3 persen
remaja putri yang hamil pranikah mengaku taat beribadah. Penelitian di
Bali tahun 1989 menyebutkan, 50 persen wanita yang datang di suatu
klinik untuk mendapatkan induksi haid berusia 15-20 tahun. Menurut Prof.
Wimpie, induksi haid adalah nama lain untuk aborsi. Sebagai catatan,
kejadian aborsi di Indonesia cukup tinggi yaitu 2,3 juta per tahun. “ Dan 20 persen di antaranya remaja,” kata Guru Besar FK Universitas Udayana, Bali ini.
Penelitian
di Bandung tahun 1991 menunjukkan dari pelajar SMP, 10,53 persen pernah
melakukan ciuman bibir, 5,6 persen melakukan ciuman dalam, dan 3,86
persen pernah berhubungan seksual. Dari aspek medis, menurut Dr. Budi
Martino L., SPOG, seks bebas / free seks memiliki banyak konsekwensi
misalnya, penyakit menular seksual,(PMS), selain juga infeksi,
infertilitas dan kanker. Tidak heranlah makin banyak kasus kehamilan
pranikah, pengguguran kandungan, dan penyakit kelamin maupun penyakit
menular seksual di kalangan remaja (termasuk HIV/AIDS).
Di
Denpasar sendiri, menurut guru besar Fakultas Kedokteran Universitas
Udayana, per November 2007, 441 wanita dari 4.041 orang dengan HIV/AIDS.
Dari 441 wanita penderita HIV/AIDS ini terdiri dari pemakai narkoba
suntik 33 orang, 120 pekerja seksual, 228 orang dari keluarga baik.
Karena keadaan wanita penderita HIV/AIDS mengalami penurunan sistem
kekebelan tubuh menyebabkan 20 kasus HIV/AIDS menyerang anak dan bayi
yang dilahirkannya.
Tindakan
remaja yang seringkali tanpa kendali menyebabkan bertambah panjangnya
problem sosial yang dialaminya. Menurut WHO, di seluruh dunia, setiap
tahun diperkirakan sekitar 40-60 juta ibu yang tidak menginginkan
kehamilan melakukan aborsi. Setiap tahun diperkirakan 500.000 ibu
mengalami kematian oleh kehamilan dan persalinan. Sekitar 30-50 %
diantaranya meninggal akibat komplikasi abortus yang tidak aman dan 90 %
terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia.
Dampak Seks bebas / free seks terhadap Kesehatan Fisik dan Psikologis Remaja
Pengetahuan remaja mengenai dampak seks bebas / free seks masih sangat rendah. Yang paling menonjol dari kegiatan seks bebas / free seks ini adalah meningkatnya angka kehamilan yang tidak diinginkan. Setiap tahun ada sekitar 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia dimana 20 persennya dilakukan remaja. Di Amerika, 1 dari 2 pernikahan berujung pada perceraian, 1 dari 2 anak hasil perzinahan, 75 % gadis mengandung di luar nikah, setiap hari terjadi 1,5 juta hubungan seks dengan pelacuran. Di Inggris 3 dari 4 anak hasil perzinahan, 1 dari 3 kehamilan berakhir dengan aborsi, dan sejak tahun 1996 penyakit syphillis meningkat hingga 486%. Di Perancis, penyakit gonorhoe meningkat 170% dalam jangka waktu satu tahun. Di negara liberal, pelacuran, homoseksual/ lesbian, incest, orgy, bistiability, merupakan hal yang lumrah bahkan menjadi industri yang menghasilkan keuntungan ratusan juta US dolar dan disyahkan oleh undang-undang.
Pengetahuan remaja mengenai dampak seks bebas / free seks masih sangat rendah. Yang paling menonjol dari kegiatan seks bebas / free seks ini adalah meningkatnya angka kehamilan yang tidak diinginkan. Setiap tahun ada sekitar 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia dimana 20 persennya dilakukan remaja. Di Amerika, 1 dari 2 pernikahan berujung pada perceraian, 1 dari 2 anak hasil perzinahan, 75 % gadis mengandung di luar nikah, setiap hari terjadi 1,5 juta hubungan seks dengan pelacuran. Di Inggris 3 dari 4 anak hasil perzinahan, 1 dari 3 kehamilan berakhir dengan aborsi, dan sejak tahun 1996 penyakit syphillis meningkat hingga 486%. Di Perancis, penyakit gonorhoe meningkat 170% dalam jangka waktu satu tahun. Di negara liberal, pelacuran, homoseksual/ lesbian, incest, orgy, bistiability, merupakan hal yang lumrah bahkan menjadi industri yang menghasilkan keuntungan ratusan juta US dolar dan disyahkan oleh undang-undang.
Lebih
dari 200 wanita mati setiap hari disebabkan komplikasi pengguguran
(aborsi) bayi secara tidak aman. Meskipun tindakan aborsi dilakukan oleh
tenaga ahlipun masih menyisakan dampak yang membahayakan terhadap
keselamatan jiwa ibu. Apalagi jika dilakukan oleh tenaga tidak
profesional (unsafe abortion).
Secara
fisik tindakan aborsi ini memberikan dampak jangka pendek secara
langsung berupa perdarahan, infeksi pasca aborsi, sepsis sampai
kematian. Dampak jangka panjang berupa mengganggu kesuburan sampai
terjadinya infertilitas.
Secara psikologis seks pra nikah memberikan dampak hilangnya harga diri, perasaan dihantui dosa, perasaan takut hamil, lemahnya ikatan kedua belah pihak yang menyebabkan kegagalan setelah menikah, serta penghinaan terhadap masyarakat.
Secara psikologis seks pra nikah memberikan dampak hilangnya harga diri, perasaan dihantui dosa, perasaan takut hamil, lemahnya ikatan kedua belah pihak yang menyebabkan kegagalan setelah menikah, serta penghinaan terhadap masyarakat.
BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Dari penjabaran diatas penulis menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang menimbulkan adanya free seks adalah sebagai berikut :
a. Pergaulan.
Kita tahu pergaulan punya pengaruh besar terhadap perilaku kita. Maka jika seseorang mempunyai lingkungan pergaulan dari kalangan teman-teman yang suka melakukan seks bebas / free seks, maka dia juga bisa terpengaruh dan akhirnya ikut melakukan seks bebas / free seks.
b. Pornografi
Pengaruh materi pornografi (film, video, internet dsb). Jika seseorang berulang kali mengakses materi pornografi, maka ini bisa mendorong terjadinya perilaku seks bebas / free seks.
c. Pengaruh obat/narkoba dan alkohol.
Seseorang yang bebas dari pengaruh narkoba dan alkohol bisa berfikir jernih dan ini mencegah dia melakukan perilaku berisiko. Dalam keadaan dipengaruhi oleh narkoba dan alkohol, maka pemikiran jernih bisa menurun dan ini bisa mendorong terjadinya perilaku seks bebas / free seks.
d. kualitas hubungan suami-isteri (buat yang sudah menikah).
Jika ada masalah dalam hubungan suami-isteri, maka ini bisa mendorong ybs melakukan hubungan seks bebas / free seks.
Jadi kombinasi dari sejumlah faktor diataslah yang merupakan penyebab free seks.
2. SARAN
Remaja
juga harus bisa menjaga diri. Hal ini mampu dilakukan pada remaja yang
mempunyai kejelasan konsep hidup dalam menjalani hidupnya. Orang tua
sejak usia dini harus menanamkan dasar yang kuat pada diri anak bahwa
Tuhan yang maha esa menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Jika
konsep hidup yang benar telah tertanam maka remaja akan memahami jati
dirinya, menyadari akan tugas dan tanggung jawabnya, mengerti hubungan
dirinya dengan lingkungaanya. Kualitas akhlak akan terus terpupuk dengan
memahami batas-batas nilai, komitmen dengan tanggung jawab bersama
dalam masyarakat. Remaja akan merasa damai di rumah yang terbangun dari
keterbukaan, cinta kasih, saling memahami di antara sesama keluarga.
Pengawasan dan bimbingan dari orang tua dan pendidik akan menghindarkan
dari pergaulan bebas
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ashify, Muhammad Mahdi. 1997. Hawa Nafsu. Bangil: YAPI (Yayasan Pesantren Islam).
Sastro Winata, Sulaiman. 2004. Ilmu Kesehatan Reproduksi. Obstetri Patologi. Jakarta : EGC.
Winjosastro, Hanifa. 1999. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
www.google.com\\seks_bebas\ diakses 18 Mei 2008.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar